Bertaruh di Ritel & Kredit Korporasi

Kinerja keuangan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) tumbuh positif di sepanjang semester I-2018. Meski kondisi pasar keuangan sedang tertekan karena tren kenaikan suku bunga, analis yakin kinerja bank pelat merah ini masih bisa menanjak. Berdasarkan laporan keuangan di paruh pertama 2018, pendapatan BBNI tumbuh 12,95% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi Rp 26 triliun.

Sementara laba bersih juga tecatat naik 15,95% jadi 7,44 triliun. Alfred Nainggolan, Kepala Riset Koneksi Kapital Sekuritas, mengatakan, BBNI berha- sil mencatatkan kinerja positif karena secara umum bank besar yang tergolong BUKU IV juga membukukan pertumbuhan yang sama. Selain itu, kinerja BBNI tumbuh karena rasio kredit bermasalah atawa non performing loan (NPL) bank ini membaik, sehingga tidak banyak menggerus besaran provisi dalam laporan laba rugi mereka. Memang, demi menjaga agar status utang debitur tidak jatuh ke kategori NPL, BBNI melakukan pengawasan ketat dan menagih secara intensif.

Upaya yang lain, BBNI juga melakukan restrukturisasi terhadap debitur yang mengalami kesulitan keuangan, tetapi masih prospektif bisa membayar utangnya. Di balik kinerja BBNI yang masih sehat, tantangan berupa tren kenaikan suku bunga bisa mengoreksi margin bunga bersih alias net interest margin (NIM). Bahkan, perseroan ini memprediksi hingga akhir 2018 akan ada koreksi NIM sekitar 10 basis poin (bps). Penurunan NIM antara lain disebabkan oleh kenaikan suku bunga kredit. Alfred mengatakan, persa- ingan pada bank BUKU IV dalam mendapatkan dana pihak ketiga (DPK) juga bakal makin ketat di tengah tren kenaikan suku bunga. Meski begitu, bank-bank yang masuk kategori BUKU IV, termasuk BBNI, memiliki segmen konsumennya sendiri, yang cukup kuat mendatangkan DPK. Oleh karena itu, meski memang akan terjadi penurunan NIM karena pengaruh kenaikan suku bunga simpanan, Alfred mengatakan penurunan NIM tidak akan terjadi pada BBNI saja, melainkan juga pada bank besar lainnya.

Segmen konsumen
Alfred mengamati, BBNI memiliki segmen konsumen kuat di ritel dan kredit korporasi. “Kualitas segmen baik ada di sektor infrastruktur dan konsumer,” kata Alfred, Selasa (25/9). Isfhan Helmy, Analis OCBC Sekuritas, dalam risetnya, mencatat, di kuartal dua lalu, BBNI sukses menjaga pertumbuhan kredit tumbuh sekitar 11% dibandingkan tahun sebelumnya. Perolehan positif tersebut didukung kuatnya pertumbuhan di sektor konsumer dan UKM, yang masing-masing tumbuh 13% dan 11%. Selain NIM yang berpotensi turun, tantangan terbesar bagi BBNI selanjutnya adalah pertumbuhan kredit yang diprediksi melambat. Ini terjadi akibat ketidakpastian ekonomi global. Selain itu, Indonesia sedang menyongsong Pemilu 2019.

“Tantangan terbesar bukan dari ketakutan pasar akan adanya kenaikan suku bunga kredit, tetapi lebih pada ketidakpastian ke depan, sehingga konsumen perbankan tidak agresif menarik pinjaman,” kata Alfred. Namun, dengan segmen konsumen yang kuat, Alfred memperkirakan, meski terjadi BBNI mengalami penurunan NIM, emiten ini tetap bisa mencetak pertumbuhan laba bersih. Selain itu, faktor konsumen bank yang cenderung wait and see jelang Pemilu hanya akan terjadi dalam jangka pendek. Alfred juga menilai fundamental BBNI masih positif. “Pertumbuhan di semester satu relatif baik dan di atas rata-rata bank BUKU IV, pertumbuhan organik yang dihasilkan dari masing-masing debitur, baik ritel maupun korporasi, akan mendorong kinerja BBNI,” tutur dia.

Senada, Rahmi Marina, Analis Maybank Kim Eng, mengatakan, volatilitas nilai tukar rupiah yang tinggi serta momen tahun politik di 2019 diperkirakan bisa membuat permintaan kredit melambat untuk jangka pendek. Rahmi mengatakan, sumber utama permintaan kredit BBNI masih datang dari segmen korporasi, yang membentuk 52% dari portofolio kredit bank ini. “BBNI harus fokus pada bisnis inti di segmen korporasi dan menjaga NPL di bawah 2,3% di akhir tahun nanti,” kata Rahmi dalam riset per 20 September. Hingga akhir tahun, Alfred memperkirakan pendapatan BBNI bisa tumbuh menjadi Rp 54 triliun, dengan laba ber- sih tumbuh menjadi Rp 15 triliun. Alfred merekomendasikan beli BBNI dengan target harga Rp 9.450 per saham. Rahmi juga merekomendasikan beli BBNI dengan target harga Rp 8.250 per saham. Sementara Franky Rivan, Analis Kresna Securities, memberi rekomendasi hold BBNI, dengan target harga Rp 8.325 per saham.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *