BI : Rupiah Akan Terus Menguat

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ada potensi penguatan rupiah terus berlanjut. Penguatan nilai tukar rupiah diperkirakan terjadi seiring meredanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, dalam beberapa waktu ke depan, nilai tukar rupiah akan cenderung stabil, bahkan menguat. Nilai tukar rupiah meneruskan penguatan pada perdagangan di pasar spot Jumat (21/9), yang ada di level Rp 14.810 per dollar AS.

Kurs rupiah menguat 0,2% dibanding penutupan perdagangan hari sebelumnya. Perry mengatakan, penguatan mata uang rupiah didorong tiga faktor. Pertama, risiko di pasar keuangan global yang mereda, baik terkait ketegangan perang dagang ASChina, maupun di pasar keuangan. Para investor global, termasuk fund manager besar melihat perang dagang tidak berdampak baik terhadap ekonomi AS.

“Sehingga mereka mulai berinvestasi ke emerging market,” ujarnya, Jumat (21/9). Hal itu tampak dari arus modal asing yang mulai masuk Indonesia, meski jumlahnya masih belum besar. “Semoga minggu depan kalau ada lelang surat berharga negara (SBN) ada arus in?ow ke SBN yang lebih besar. Sejauh ini yang masuk di pasar sekunder belum terlalu besar,” tambahnya. Kedua, optimisme investor domestik dan global terhadap langkah kebijakan BI dan pemerintah dalam menurunkan defisit transaksi berjalan (CAD) yang dinilai cukup kuat. Oleh karena itu, Indone- sia dipandang punya prospek baik, berbeda dengan negara emerging market lainnya. Ketiga, eksportir dan pemilik valas semakin banyak menjual valas ke pasar.

Sehingga suplai dollar di pasar bertambah, termasuk pengusaha di Jawa Timur yang menukarkan dollarnya. Perry pun mengajak pengusaha untuk semakin banyak menjual valas di pasar sehingga rupiah semakin stabil. “Tekanan global, kalau kita hadapi bersama, insya Allah akan semakin memperkuat stabilitas dan semakin akan memperkuat ekonomi ke depan,” tandas Perry Selain itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah menambahkan, penguatan nilai tukar rupiah terus berlanjut karena dipicu dua hal. Pertama, bank sentral negara maju seperti bank sentral Norwegia dan Bank Nasional Swiss mulai menaikkan suku bunga, serta bank sentral Australia dan Swedia yang memberikan sinyal menaikkan suku bunga.

Kedua, pulihnya risk appetite atau minat penempatan dana investor global ke instrumen finansial di emerging market yang sebelumnya dihempaskan karena dinilai berisiko tinggi sehingga menjadi terlalu undervalued. “Bahkan dengan kemungkinan naiknya suku bunga Fed Fund pada pertemuan komite kebijakan moneter The Fed (FOMC) pekan depan, kalangan analis mulai meragukan akan menjadi penopang penguatan dolar,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *