Nilai Utang Pemerintah Bengkak Rp 110 Triliun

Nilai utang pemerintah terus membengkak. Hingga 31 Agustus 2018, tercatat nilai utang pemerintah sebesar Rp 4.363,19 triliun. Jumlah tersebut naik Rp 110 triliun atau 2,59% dibandingkan dengan posisi bulan Juli yang sebesar Rp 4.253 triliun.

Sejak awal tahun 2018, pemerintah memang terus menarik utang. Tercatat sejak Januari 2018, penarikan utang mencapai sebesar Rp 425,19 triliun. Dengan begitu, “Rasio utang pemerintah per akhir Agustus 2018 menjadi 30,31% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB),” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemkeu) Luky Al firman, Jumat (21/9). Rasio utang terhadap PDB yang mencapai 30,31%, naik dibandingkan akhir 2017 yang sebesar 29,2% dari PDB.

Namun, Luky mengatakan, posisi utang pemerintah dinilai masih aman. Pasalnya, persentase utang pemerintah masih di bawah 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebagaimana ketentuan UndangUndang Keuangan Negara Nomor 17 Tahun 2003. Dia merinci, utang pemerintah berasal dari pinjaman luar negeri sebesar Rp 815,05 triliun dan pinjaman dalam negeri Rp 6,25 triliun. Sementara nilai penerbitan surat berharga negara (SBN) denominasi rupiah sebesar Rp 2.499,44 triliun dan berdenominasi valuta asing Rp 1.042,46 triliun. Dengan begitu maka komposisi utang pemerintah secara keseluruhan terdiri pinjaman sebesar 18,82%, SBN denominasi rupiah 57,28%, dan SBN valas 23,89%. Komposisi utang ini, menurut Luky, sejalan dengan strategi pemerintah untuk memperdalam pasar obligasi. Hal itu mengingat posisi Indonesia yang sudah naik kelas menjadi middle income country yang sudah tidak lagi mempoleh pinjaman lunak.

Bunga utang naik
Di tengah kenaikan utang, pemerintah hingga 31 Agustus 2018 juga telah merealisasikan pembayaran bunga utang sebesar Rp 163,5 triliun. Jumlah itu 68% dari pagu yang ditargetkan dalam APBN 2018. Direktur Jenderal (Dirjen) Anggaran Kemkeu Askolani mengatakan, realisasi pembayaran bunga utang naik 15,1% dibanding pada periode yang sama tahun 2017. “Bunga utang naik sejalan dengan perubahan suku bunga dan nilai tukar rupiah,” ujarnya. Sepanjang tahun ini, pemerintah berencana melakukan pembayaran bunga utang mencapai Rp 238,6 triliun. Target itu lebih tinggi dibanding dalam APBN 2017 yang sebesar Rp 219,2 triliun.

Ekonom Maybank Myrdal Gunarto mengatakan, peningkatan utang pemerintah menjadi peringatan bagi pengelolaan fiskal Indonesia. “Dampak pelemahan rupiah dan kenaikan suku bunga global membuat jumlah utang kita naik. Itulah mengapa pemerintah mulai memperlambat utang luar negerinya,” ucapnya. Meskipun demikian, ia mengakui, posisi utang saat ini masih aman.

Pendapatan Negara Juga Ikut Naik
KEMENTERIAN Keuangan (Kemkeu) mencatat pendapatan negara sampai dengan Agustus 2018 telah mencapai Rp 1.152,83 triliun. Jumlah itu sama dengan 60,84% target penerimaan negara 2018 yang sebesar Rp 1.894,7 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, realisasi pendapatan negara per Agustus tumbuh 18,4% dibandingkan periode sama 2017 yang sebesar Rp 973,4 triliun. “Sampai dengan Agustus 2018 posisi pendapatan negara sangat baik dan lebih baik dari 2017,” ujar Sri Mulyani dalam konfrensi pers tentang APBN, Jumat (21/9).

Penerimaan negara berasal dari tiga sektor, yakni perpajakan, bea dan cukai, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) serta dana hibah. Penerimaan pajak dan bea cukai mencapai 56,09%, senilai Rp 907,54 triliun, dari target APBN 2018. Penerimaan ini tumbuh 16,5% dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 778,7 triliun. Sedang PNBP sebesar Rp 240,29 triliun atau 87,24% dari target dan penerimaan dana hibah sebesar Rp 4,99 triliun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *